Jumat, 24 April 2015

Dunia Ilmu

   Ilmu adalah dasar dari segala sesuatu. Tanpa ilmu apa yang kita lakukan akan sia - sia. Oleh itu dalam segala hal kita di wajibkan menuntut ilmu. Seperti halnya apa yang telah di sabdahkan Rosullah "Menuntut Ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim, baik laki - laki maupun perempuan".  Mengintip hadist tersebut apapun yang kita lakukan harus di dasari dengan Ilmu. Baik dalam beragama, bekerja, menikah, berdagang, dan segala apapun harus didasari dengan ilmu. 
   Sebelumnya perkenalkan nama saya Imam Ali Maksum, umur 18 tahun, mahasiswa Mah'had Aly di STAI Raden Qosim semester II, santri di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Tenpat kelahiran saya di desa Ketileng kecamatan Todanan kabupaten Blora Jawa Tengah.          Sebelum mengoprasikan otak di pesantren ini, saya pernah menuntut ilmu di salah satu pesantren kecil di pelosak selatan kota Rembang. Nama pondok Pesantrennya yaitu Pondok Pesantren Alhamdulillah.  Selain belajar ilmu - ilmu salaf di pesantren tersebut saya juga belajar ilmu kejuruan di SMK ANNURONIYAH Sulang di bawah naungan Pondok Pesantren Alhamdulillah. Jurusan yag saya ambil yaitu Tehnik Audio Video. Jumlah siswa sekelasku dulu 21 anak dan semuanya laki - laki jadi suasana di kelas sangat membosankan. Di waktu istirahat karena tidak ada seorang wanita yang di ajak ngobrol - ngobrol maupun di ajak canda tawa, sehingga aku sering menggunakan waktu tersebut untuk membaca buku - buku. Senang sekali saya membaca buku tentang agama sampai cerita - cerita jaman dahulu, seperti para Nabi, Ulama' Sufi dan lain lain. Membaca cerita tersebut menginspirasi saya intuk lebih bersemangat mendalami Ilmu Agama.     
   Tak terasa tiga tahun sudah berlalu saya membolak - balik buku di pesantren Alhamdulillah. Sekarang saya menuntut Ilmu di Pondok Pesantren Sunan Drajat Paciran Lamongan. Pondok Pesantren  yang jumlah santrinya sudah mencapai 12.000 santri dari berbagai pelosok pelosok negri tercinta bahkan sampai mancanegara ini, di asuh oleh Prof. Dr. KH Abdul Ghofur. Beliau sosok teladan yang kaismatik. Dalam perjalanan menuntut Ilmu sampai membangun Pondok Pesantren sebesar ini, beliau mengorbankan seluruh apa yang dimilikinya baik harta maupun tenaga untuk meneruskan perjuangan para pendiri agama islam di tanah Jawa.    
   Pondok Pesantren Sunan Drajat Pertama kali di dirikan oleh Raden Qosim. Putra dari Raden Rahmad (Sunan Ampel) dengan istri keduanya yaitu Dewi Chandrawati atau sering disebut Nyai Ageng Manila. Sedangkan pada istri pertama "Dewi Karimah", Sunan Ampel dikaruniani dua anak yaitu Dewi Murtasih yang menjadi istri Raden Fataah "sultan pertama kerajaan islam Demak Bintoro" atau sering di sebut Sunan Kalijaga dan Dewi Murtasimah yang menjadi permaisuri Raden Paku (Sunan Giri). Selain Raden Qosim, istri kedua, dari Bapak para Wali ini juga dikaruniai tiga anak lainnya yaitu Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Siti Syare'at, Siti Mutmainnah, Siti Shofiah.  
   Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dahulu terdapat Ulama' dari banjarmasin berlayar melewati Laut Jawa. Ketika perjalanannya samapai di laut Lamongan kapal yang ia naiki pecah di makan ombak. Al hasil ulama' tersebut tenggelam. Akan tetapi ia di tolong oleh ikan cucut dan di bawa ke tepi pantai. Dengan Memeluk Kalam Ilahi di dadanya, ia terbaring di tepi pantai. Melihat kejadian tersebut, warga sekitar segera menolongnya lalu di bawa ke rumah Kepala Desa. Ia dirawat Kepala Desa selama beberapa hari sampai sembuh. Setelah sembuh ia berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya. Kepala desa dan warga sekitar pun mengijinkannya dan memberinya perahu untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi ketika parahu yang diberikan akan dijalankan melanjutkan perjaanan, tiba - tiba perahu tersebut tidak bisa berjalan. Ulama' tersebut berfirasat bahwa Allah memberikan amanat untuk berdakwah di daerah tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk mendakwahkan agama islam di daerah tersebut. Oleh karena itu daerah tersebut sampai sekarang dinamakan Desa Banjaranyar "wong banjarmasin kang gowo agomo anyar".
           Setelah beberapa 
   


0 komentar: