
Ilmu adalah dasar dari segala sesuatu. Tanpa
ilmu apa yang kita lakukan akan sia - sia. Oleh itu dalam segala hal kita di
wajibkan menuntut ilmu. Seperti halnya apa yang telah di sabdahkan Rosullah
"Menuntut Ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim, baik laki - laki
maupun perempuan". Mengintip
hadist tersebut apapun yang kita lakukan harus di dasari dengan Ilmu. Baik
dalam beragama, bekerja, menikah, berdagang, dan segala apapun harus didasari
dengan ilmu.
Sebelumnya perkenalkan nama saya Imam Ali Maksum, umur
18 tahun, mahasiswa Mah'had Aly di STAI Raden Qosim semester II, santri di
Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Tenpat kelahiran saya di desa Ketileng
kecamatan Todanan kabupaten Blora Jawa Tengah. Sebelum
mengoprasikan otak di pesantren ini, saya pernah menuntut ilmu di salah satu
pesantren kecil di pelosak selatan kota Rembang. Nama pondok Pesantrennya yaitu
Pondok Pesantren Alhamdulillah. Selain belajar ilmu - ilmu salaf di
pesantren tersebut saya juga belajar ilmu kejuruan di SMK ANNURONIYAH Sulang di
bawah naungan Pondok Pesantren Alhamdulillah. Jurusan yag saya ambil yaitu
Tehnik Audio Video. Jumlah siswa sekelasku dulu 21 anak dan semuanya laki -
laki jadi suasana di kelas sangat membosankan. Di waktu istirahat karena tidak
ada seorang wanita yang di ajak ngobrol - ngobrol maupun di ajak canda tawa,
sehingga aku sering menggunakan waktu tersebut untuk membaca buku - buku.
Senang sekali saya membaca buku tentang agama sampai cerita - cerita jaman
dahulu, seperti para Nabi, Ulama' Sufi dan lain lain. Membaca cerita tersebut
menginspirasi saya intuk lebih bersemangat mendalami Ilmu Agama.
Tak terasa tiga tahun sudah berlalu
saya membolak - balik buku di
pesantren Alhamdulillah. Sekarang saya menuntut Ilmu di Pondok Pesantren Sunan
Drajat Paciran Lamongan. Pondok Pesantren yang jumlah santrinya sudah
mencapai 12.000 santri dari berbagai pelosok pelosok negri tercinta bahkan
sampai mancanegara ini, di asuh oleh Prof. Dr. KH Abdul Ghofur. Beliau sosok
teladan yang kaismatik. Dalam perjalanan menuntut Ilmu sampai membangun Pondok
Pesantren sebesar ini, beliau mengorbankan seluruh apa yang dimilikinya baik
harta maupun tenaga untuk meneruskan perjuangan para pendiri agama islam di
tanah Jawa.
Pondok
Pesantren Sunan Drajat Pertama kali di dirikan oleh Raden Qosim. Putra dari
Raden Rahmad (Sunan Ampel) dengan istri keduanya yaitu Dewi Chandrawati atau
sering disebut Nyai Ageng Manila. Sedangkan pada istri pertama "Dewi
Karimah", Sunan Ampel dikaruniani dua anak yaitu Dewi Murtasih yang
menjadi istri Raden Fataah "sultan pertama kerajaan islam Demak
Bintoro" atau sering di sebut Sunan Kalijaga dan Dewi Murtasimah yang
menjadi permaisuri Raden Paku (Sunan Giri). Selain Raden Qosim, istri
kedua, dari Bapak para Wali ini juga dikaruniai tiga anak lainnya yaitu Maulana
Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Siti Syare'at, Siti Mutmainnah, Siti Shofiah.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dahulu terdapat
Ulama' dari banjarmasin berlayar melewati Laut Jawa. Ketika perjalanannya
samapai di laut Lamongan kapal yang ia naiki pecah di makan ombak. Al hasil
ulama' tersebut tenggelam. Akan tetapi ia di tolong oleh ikan cucut dan di bawa
ke tepi pantai. Dengan Memeluk Kalam Ilahi di dadanya, ia terbaring di tepi
pantai. Melihat kejadian tersebut, warga sekitar segera menolongnya lalu di
bawa ke rumah Kepala Desa. Ia dirawat Kepala Desa selama beberapa hari sampai
sembuh. Setelah sembuh ia berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya. Kepala desa dan warga sekitar pun mengijinkannya dan memberinya perahu untuk melanjutkan perjalanan. Akan
tetapi ketika parahu yang diberikan akan dijalankan melanjutkan perjaanan, tiba - tiba perahu tersebut tidak bisa berjalan. Ulama' tersebut berfirasat bahwa Allah memberikan amanat untuk berdakwah di daerah tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk mendakwahkan agama islam di daerah tersebut. Oleh karena itu daerah tersebut sampai sekarang dinamakan Desa Banjaranyar "wong banjarmasin kang gowo agomo anyar".
Setelah beberapa
Ilmu adalah dasar dari segala sesuatu. Tanpa
ilmu apa yang kita lakukan akan sia - sia. Oleh itu dalam segala hal kita di
wajibkan menuntut ilmu. Seperti halnya apa yang telah di sabdahkan Rosullah
"Menuntut Ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim, baik laki - laki
maupun perempuan". Mengintip
hadist tersebut apapun yang kita lakukan harus di dasari dengan Ilmu. Baik
dalam beragama, bekerja, menikah, berdagang, dan segala apapun harus didasari
dengan ilmu.
Sebelumnya perkenalkan nama saya Imam Ali Maksum, umur
18 tahun, mahasiswa Mah'had Aly di STAI Raden Qosim semester II, santri di
Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Tenpat kelahiran saya di desa Ketileng
kecamatan Todanan kabupaten Blora Jawa Tengah. Sebelum
mengoprasikan otak di pesantren ini, saya pernah menuntut ilmu di salah satu
pesantren kecil di pelosak selatan kota Rembang. Nama pondok Pesantrennya yaitu
Pondok Pesantren Alhamdulillah. Selain belajar ilmu - ilmu salaf di
pesantren tersebut saya juga belajar ilmu kejuruan di SMK ANNURONIYAH Sulang di
bawah naungan Pondok Pesantren Alhamdulillah. Jurusan yag saya ambil yaitu
Tehnik Audio Video. Jumlah siswa sekelasku dulu 21 anak dan semuanya laki -
laki jadi suasana di kelas sangat membosankan. Di waktu istirahat karena tidak
ada seorang wanita yang di ajak ngobrol - ngobrol maupun di ajak canda tawa,
sehingga aku sering menggunakan waktu tersebut untuk membaca buku - buku.
Senang sekali saya membaca buku tentang agama sampai cerita - cerita jaman
dahulu, seperti para Nabi, Ulama' Sufi dan lain lain. Membaca cerita tersebut
menginspirasi saya intuk lebih bersemangat mendalami Ilmu Agama.
Tak terasa tiga tahun sudah berlalu
saya membolak - balik buku di
pesantren Alhamdulillah. Sekarang saya menuntut Ilmu di Pondok Pesantren Sunan
Drajat Paciran Lamongan. Pondok Pesantren yang jumlah santrinya sudah
mencapai 12.000 santri dari berbagai pelosok pelosok negri tercinta bahkan
sampai mancanegara ini, di asuh oleh Prof. Dr. KH Abdul Ghofur. Beliau sosok
teladan yang kaismatik. Dalam perjalanan menuntut Ilmu sampai membangun Pondok
Pesantren sebesar ini, beliau mengorbankan seluruh apa yang dimilikinya baik
harta maupun tenaga untuk meneruskan perjuangan para pendiri agama islam di
tanah Jawa.
Pondok
Pesantren Sunan Drajat Pertama kali di dirikan oleh Raden Qosim. Putra dari
Raden Rahmad (Sunan Ampel) dengan istri keduanya yaitu Dewi Chandrawati atau
sering disebut Nyai Ageng Manila. Sedangkan pada istri pertama "Dewi
Karimah", Sunan Ampel dikaruniani dua anak yaitu Dewi Murtasih yang
menjadi istri Raden Fataah "sultan pertama kerajaan islam Demak
Bintoro" atau sering di sebut Sunan Kalijaga dan Dewi Murtasimah yang
menjadi permaisuri Raden Paku (Sunan Giri). Selain Raden Qosim, istri
kedua, dari Bapak para Wali ini juga dikaruniai tiga anak lainnya yaitu Maulana
Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Siti Syare'at, Siti Mutmainnah, Siti Shofiah.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dahulu terdapat
Ulama' dari banjarmasin berlayar melewati Laut Jawa. Ketika perjalanannya
samapai di laut Lamongan kapal yang ia naiki pecah di makan ombak. Al hasil
ulama' tersebut tenggelam. Akan tetapi ia di tolong oleh ikan cucut dan di bawa
ke tepi pantai. Dengan Memeluk Kalam Ilahi di dadanya, ia terbaring di tepi
pantai. Melihat kejadian tersebut, warga sekitar segera menolongnya lalu di
bawa ke rumah Kepala Desa. Ia dirawat Kepala Desa selama beberapa hari sampai
sembuh. Setelah sembuh ia berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya. Kepala desa dan warga sekitar pun mengijinkannya dan memberinya perahu untuk melanjutkan perjalanan. Akan
tetapi ketika parahu yang diberikan akan dijalankan melanjutkan perjaanan, tiba - tiba perahu tersebut tidak bisa berjalan. Ulama' tersebut berfirasat bahwa Allah memberikan amanat untuk berdakwah di daerah tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk mendakwahkan agama islam di daerah tersebut. Oleh karena itu daerah tersebut sampai sekarang dinamakan Desa Banjaranyar "wong banjarmasin kang gowo agomo anyar".






0 komentar:
Posting Komentar