Gendang telingaku bergetar keras mendengar kegemuruhan
bagai sarang lebah raksasa yang terkena lemparan peluru ketapel adekku.
Terdengar dari tiap sudut aula ponpes
sunan drajat yang membuatku memalingkan pandangan kearah peserta bastul masa’il yang sedang unjuk pendapat. Di
tengah grombolan lebah yang di kondisikan oleh moderator untuk mencari sari bunga
yang diproses menjadi madu religi, aku yang berada di tengah – tengah mereka mengamati
dengan penuh konsentrasi apa yang mereka debatkan. Suasana semakin mendebarkan
ketika jarum mulut lebah mulai menghisab ukiran suci kitab – kitab salaf. Ibaroh
demi ibarah di lontarkan para delegasi pondok pesantren sejawa dan madura.
Pondok ini berpendapat begini, pondok itu berpendapat begitu hingga adu
pendapat ulama‘ demi menguatkan argumentasi masing – masing. Suasana menjadi
hening ketika perumus lebah angkat bicara di samping kesibukan notulis
menggesekkan tintanya di atas mushaf suci.
Tak lama kemudian mushohih memutuskan hasil madu yang sangat
bermanfaatbagi bagi vitamin hati.
Itulah suasana bastsul masa’il kubro III di bumi damai
pondok pesantren sunan drajat. Satu bulan yang lalu aku dipilih untuk menjadi
panitia acara tersebut dan mengemban tugas sebagai mentri penerima tamu. Setelah beberapa kali meeting
untuk merancang stategi perang akhirnya hari ini musuh berada di depan mata dan
siap untuk bertempur demi kemenangan. Sesuai strategi, tugas kami di laksanakan
setelah solat dhuhur. Kami dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama jaga
di penginapan sedangkan kelompok kedua Tsan By di gerbang pondok untuk menunggu
peserta bastul masa’il. Saat itu aku kebagian kelompok kedua di temani tiga
panitia lainnya. Sedangkan di penginapan terdapat tiga panitia yang melayani
pengisian formilir pendaftaran dan menjaga peserta. Akan tetapi pagi ini
setelah pangkajian Kalam Ihya‘ Ulumuddin oleh pengasuh pondok Prof. Dr. KH
Abdul Ghofur aku menuju ke skertariatan panitia bastul masail. Sebelum tugas
pokok kami dilaksanakan aku membantu pekerjaan yang lain seperti, meminjam
kitab, karpet, bantal, meja, perlengkapan makan dan menata barang – barang
tersebut sesuai dengan kuda – kudanya.
Sepeda montor, mobil, bus parewisata, truk
PT. Sunan Drajat dan macam – macam jenis kendaraan berlalu lalang di depan
lensa mataku, suara kenalpotnya mengagetkan gendang telingaku, asap mesinnya
menusuk bulu hidungku, panas membakar tubuhku, lapar bermain musik keroncong di
dalam perutku, haus menguras ludah dalam tenggoroanku. Sungguh membosankan
siang ini, mulai tergelincirnya matahari sampai masuk waktu asar, aku dan tim
terima tamu berada di pinggar jalan raya di bawah gapura gerbang masuk Pondok
Pesantren Sunan Drajat dan belum ada satu pun peserta yang datang. Dengan
menggunakan baju putih, sarung hitam, peci hitam, tak terlupakan ID Cart
sebagan tanda panitia, kami duduk di atas kursi yang terbuat dari bambu
beralaskan karpet.
Memandang tiap kendaraan yang sibuk dengan
ururannya masing – masing, setengah jam setelah azan asar ada dua orang berpakaian
panjang, bersarung dan berpeci putih serta mengenakan tas rensel dengan wajah
yang agak hitam kecoklatan turun dari bus mini antar kota. Aku dan Zaenuri
segera menghampirinya.
“Assalamualaikum Wr. Wb. Peserta bastul
masail ya? Tanyaku dengan bibir sepuluh sentimeter.
“ia mas, kami dari Madura”.jawab salah satu
dari mereka yang berjenggot tipis.
“Selamat datang di Pondok Pesantren Sunan
Drajat. Mari ikut saya ke sekertariatan lalu menuju ke penginapan”.
“Baik, trimakasih banyak”. Jawab mereka yang dengan penuh semangat.
Aku pun mengantar mereka ke tempat
sekertariatan yang berjarak sekitar dua ratus meter dari gerbang pondok. Duduk
di atas kursi kayu di belakang meja yang bertaplak hijau, dengan gagahnya anas mengenakan
baju putih, berdasi, berjas hitam dan peci seperti DPR di gedung senayan
jakarta.
“Asslamualaikum Wr. Wb.“ sapaku kepada anas
dan panitia bagian sekertaritan yang berdiri menyambut kami.
“Wa’alaikum salam Wr. Wb.“ Jawab mereka
serentak. Panitia dan Peserta saling berjabat tangan sebagai tanda penghormatan
kepada peserta yang merelakan waktu perjalanan lima jam dari Madura.
“Selahkan duduk, silahkan di isi dulu daftar
peserta ini “. Dengan menyodorkan beberapa kertas di dalam map.
“terimakasih“. Balas peserta yang mengambil bulpoin untuk menisi daftar hadir.
Aku meninggalkan mereka dan kembali ke tugas utama. Sebelum sampain di
gerbang pondok aku bersampingan dengan Zenuri dan dua orang bersarung. Sebelum
masuk waktu magrib pada catatan Anas terdapat lima belas peserta bastu masa’il
yang telah hadir. Sepuluh sisanya hadir pada malam hari dan pagi sebelum acara
Opening dilaksanakan. Dari tuju puluh pondok pesantren se jawa dan Madura yang
di undang, yang hadir hanya dua puluh lima pewakilan dari pondok yang
mendelegasikan. Malam ini tidak ada acara apapun, hanya kesibukan panitia
manata aula melai dari dekorasi panggung, karpet, meja, taplak, sound system
dsb.
Anak
panah masuk pada lubang telingaku menjalar melalui sum-sum tulang menuju ke
otak pusat mengisyarahkan untuk menyalakan mesin diesel yang semalam telah
beristirahat. Aku terbangun mendengar lantunan solawat Habib
Syeh yang telah menyadarkanku dari mati sementara. Jam menunjukkan pukul 04.00
aku harus segera mandi sebelum antrian santri memperlambat langkahku. Pagi –
pagi setalah peserta dan panitia sarapan acara Opening dimulai. Sayangnya acara
pada Opening bastul masa’il III pengasuh pondok tidak dapat hadir karena ada
kepentingan yang tidak dapat di tinggal.
Peserta dan panitia mentri acara berkumpil di aula PPSD. Azizi teman sekelasku
yang kali ini mengemban tugas master of ceremony mengangkat suara. Pemenang
jaura tiga puisi bahasa arab tingkat nasional ini
.






0 komentar:
Posting Komentar